Paper Mata Kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan
Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan Medan, April 2021
NILAI EKONOMI PEMANFAATAN KAWASAN KONSERVASI BAGI MASYARAKAT SEKITAR RESORT BODOGOL, TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO
Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Oleh:
Al Fandi Koto
191201133
HUT 4A
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan perlindunganNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Makalah yang berjudul “Nilai Ekonomi Pemanfaatan Kawasan Konservasi Bagi Masyarakat Sekitar Resort Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ” ini dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyelesaian Makalah ini, penulis mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu penulis mengucapkan terimakasih yang besar kepada Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si selaku dosen Pembimbing mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan, yang telah mengajarkan materi dengan baik dan benar.
Penulis juga sadar bahwa penulisan Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, baik dari penyusunan materi dan tata penulisan. Oleh karena itu, penulis sangat menghargai setiap kritik dan saran dari para pembaca demi penyempurnaan Makalah ini. Semoga Makalah ini dapat bermaanfaat bagi siapapun yang membacanya.
Medan, April 2021
Penulis
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Taman Nasional
Gunung Gede Pangrango (TNGGP) ditetapkan menjadi taman nasional ber[1]dasarkan SK Menteri Pertanian No
736/Men-tan/X/1982 dengan luas 15,196 ha (BTNGGP 2014). Pada tahun 2003, sesuai
SK Menteri Kehutanan No.174/Kpts[1]II/2003 terjadi perubahan fungsi kawasan
Cagar Alam, Taman Wisata Alam, hutan produksi tetap, hutan produksi terbatas
menjadi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Lahan perluasan tersebut seluas
7,655.03 ha berasal dari kawasan Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan
Banten, sehingga total luas kawasan TNGGP menjadi 21,975 ha.
Pemanfaatan
terhadap kawasan TNGGP masih dilakukan oleh masyarakat desa penyangga terutama
pada lahan limpahan Perum Perhutani. Menurut Undang[1]undang No 5 tahun
1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, daerah
penyangga merupakan suatu wilayah yang berada diluar kawasan suaka alam maupun
kawasan pelestarian alam, baik sebagai kawasan hutan lain, tanah negara, maupun
tanah yang dibebani hak, yang diperlukan dan mampu menjaga keutuhan suaka alam
dan kawasan pelestarian alam. Seiring dengan pertambahan penduduk dan
pertumbuhan ekonomi, tekanan terhadap kawasan konservasi oleh masyarakat yang
berada di sekitar kawasan konservasi juga semakin besar karena tingkat
kebutuhan dan kepentingan terhadap sumberdaya alam semakin tinggi. Salah satu
desa penyangga di Resort Bodogol yang masih terdapat kegiatan pemanfaatan
terhadap kawasan yakni Desa Pasir Buncir dan Desa Wates Jaya.
Pemanfaatan yang dilakukan sebagian
besar bersifat komersil, sehingga penelitian ini perlu dilakukan guna mengukur
tingkat ketergantungan masyarakat Desa Pasir Buncir dan Desa Wates Jaya
terhadap kawasan TNGGP Nilai Ekonomi Pemanfaatan Kawasan Konservasi bagi
Masyarakat Sekitar Resort Bodogol 49 dengan mengidentifikasi pola-pola
penggunaan kawasan untuk menghitung nilai ekonomi langsung yang diperoleh
masyarakat dalam memanfaatkan kawasan TNGGP. Data ini dapat dijadikan suatu
rumusan solusi menangani pemanfaatan yang masih dilakukan oleh masyarakat.
Nilai ekonomi sumberdaya hutan baru disadari ketika semakin langka
keberadaannya dan kesejahteraan manusia menjadi terganggu. Konsumsi beberapa
manfaat sumberdaya hutan seperti hidrologis, biologis dan estetika terjadi
tidak melalui mekanisme pasar. Selain dari pada itu manfaat hutan ada juga yang
dinikmati sendiri oleh masyarakat secara tradisional, tidak dijual. Pemanfaatan
tersebut secara ekonomi merupakan pemenuhan sebagian kebutuhan
hidup,sehinggadapat dikatakan bahwa produk barang dan jasa hutan dimaksud
dinikmati tetapi tidak dipasarkan (non marketable). Pemanfaatan yang masih terbatas dan tidak dijualbelikan di
pasar menyebabkan penilaian sebagian barang dan jasa hasil sumberdaya hutan
tidak dapat dilakukan secara memuaskan dengan pendekatan pasar.
Rumusan Masalah
1. Apa yang dilakukan masyarakat sekitar dalam memanfaatkan kawasan hutan konservasi sekitar Resort Bodogol, Taman Gunung Gede Pangrango?
2. Apa saja yang merupakan faktor penarik dan pendorong dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan konservasi sekitar Resort Bodogol, Taman Gunung Gede Pangrango?
Tujuan Masalah
1. Menganalisis apa yang dilakukan masyarakat sekitar dalam memanfaatkan kawasan hutan konservasisekitar Resort Bodogol, Taman Gunung Gede Pangrango
2. Mengetahui faktor penarik dan pendorong dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan konservasi sekitar Resort Bodogol, Taman Gunung Gede Pangrango?
Metode
Penelitian
Penelitian ini
dilakukan pada bulan September - Oktober 2014 di Desa Pasir Buncir (Kecamatan
Caringin) dan Desa Wates Jaya (Kecamatan Cigombong), Kabupaten Bogor. Pemilihan
desa dilakukan secara purposive. Nilai ekonomi hasil hutan, pertanian dan
perkebunan diperoleh melalui pendekatan harga pasar, harga barang pengganti dan
kesediaan membayar (willingness to pay). Data-data tersebut diperoleh dari responden
dan informan melalui beberapa metode, yaitu: Focused Group Discussion (FGD), Wawancara,
Kuesioner, dan Observasi Lapang.
Hasil dan Pembahasan
Resort Bodogol berada di bawah pengelolaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Wilayah III Bogor dengan luas 2,639.93 Ha. Secara administrasi kawasan ini berada di Kabupaten Bogor (Kecamatan Cigombong dan Caringin) dan Kabupaten Sukabumi (Kecamatan Ciambar dan Cicurug) (BTNGGP 2014). Masyarakat Desa Pasir Buncir (77%) dan Desa Wates Jaya (74%) pada umumnya bermata pencaharian dibidang pertanian baik yang memiliki lahan atau sebagai buruh tani (Data Monografi Desa Pasir Buncir dan Desa Wates Jaya 2014). Pemanfaatan kawasan yang dilakukan berupa kegiatan pertanian, perkebunan, pengambilan terhadap hasil hutan bukan kayu, serta pemanfaatan jasa lingkungan berupa air. Pola pemanfaatan yang dilakukan masyarakat dikedua desa dalam hal cara pemanfaatan, jenis komoditas yang dihasilkan, cara penanaman dan cara pemanenan serta cara penjualan setiap komoditas relatif sama antar masyarakat pemanfaatnya, seperti Pertanian, Perkebunan, dan Pemanfaatan Hasil Hutan Lain.
Jenis
dan Pola Pemanfaatan di Kawasan Resort Bodogol
Pemanfaatan
kawasan yang dilakukan berupa kegiatan pertanian, perkebunan, pengambilan
terhadap hasil hutan bukan kayu, serta pemanfaatan jasa lingkungan berupa air.
Pola pemanfaatan yang dilakukan masyarakat dikedua desa dalam hal cara
pemanfaatan, jenis komoditas yang dihasilkan, cara penanaman dan cara pemanenan
serta cara penjualan setiap komoditas relatif sama antar masyarakat
pemanfaatnya.
Nilai
Ekonomi dan Persepsi Pemanfaatan Kawasan Taman Nasional
Nilai ekonomi pemanfaatan kawasan
oleh masyarakat diperoleh merupakan
nilai akumulasi pertahun dari kegiatan responden dalam memanfaatkan kawasan
TNGGP.Tingkat ketergantungan masyarakat terhadap kawasan taman nasional sebesar
26.2%. Nilai tersebut diukur dari nilai kontribusi kegiatan di dalam kawasan
taman nasional terhadap pendapatan rumah tangga masyarakat. Menurut Amelgia
(2009) dalam Agustinawati (2011), tingkat ketergantungan masyarakat terhadap
hutan nilai 20-40% termasuk dalam kategori tergantung.Hal ini menunjukan
masyarakat masih menggantungkan hidupnya dari kawasan taman nasional.
DAFTAR PUSTAKA
Agustinawati SR. 2011.Kontribusi Sumberdaya Hutan terhadap Pendapatan Masyarakat sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor
Avenzora R. 2008. Ekoturisme Teori dan Praktek. Banda Aceh (ID):BRR NAD dan Nias.
[DEPHUT] Departemen Kehutanan. 2014. Buku Pengelolaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Wilayah III Bogor: Bogor (ID): Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Diantoro TD. 2011. Perambahan Kawasan Hutan pada Konservasi Taman Nasional (Studi Kasus Taman Nasional Tesso Nilo, Riau). Mimbar hukum 23(3): 431-645
Idrus M. 2009. Metode Penlitian Ilmu Sosial. Jakarta (ID): Erlangga.
Kusnanto. 2000. Bentuk-bentuk Gangguan Manusia pada Daerah Tepi Kawasan Taman Nasional Gunung Gede pangrango, Jawa Barat [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Silalahi U. 2012.Metode Penelitian Sosial.Bandung (ID): Refika Aditama
Sakaran U.2006.Metodologi Penelitian untuk Bisnis, Edisi 4. Jakarta (ID): Salemba Empat
Vayda AP. 1983. Progressive Contextualization: Methods for Research in Human Ecology. Human Ecology 11 (3) 265-281

Waw sangat bagus dan aku terhura kepadamu❤️
BalasHapusMantapsss
BalasHapusWawwww,, primitif
BalasHapuskeren banget
BalasHapusMantap
BalasHapusInfo yang sangat bermanfaat
BalasHapusJudul yang sangat menarik namun diharapkan penulis lebih menyertakan pembahasan khusus tentang potensi ekonomi sdh di taman nasional ini . Yang mana di hasil dan pembahasan juga sudah disebutkan berupa pengambilan terhadap hhbk tetapi kurang rinci. Untuk sistematika penulisan sudah bagus, dan blog ini dapat memberi informasi yang cukup luas.
BalasHapus